Waktu adalah hal yang tidak akan pernah bisa kembali. Waktu berjalan dengan begitu cepatnya. Serasa baru kemarin kita menjadi anak kecil, serasa baru kemarin kita menghabiskan hari-hari kita untuk bermain. Dulu kita yang kecil dan tak tahu apa-apa tentang kehidupan, kini kita tumbuh dewasa dan akhirnya kita mengerti bahwa hidup penuh dengan tanggung jawab dan tidak mudah untuk menjalaninya.
Miss Writer
Namanya Meita Ariana Indah bekerja sebagai salah satu staff di sebuah kantor jasa. Jelas saja bukan cita-cita yang pernah ia tulis pada masa sekolah dasar dulu. Tapi apa mau dikata, seperti kata orang bijak "Orang boleh saja berencana, tapi pada akhirnya tetap Tuhan yang menentukan", seperti itulah Meita menyebut dirinya sebagai korban permainan nasib.
Selepas SMA, Meita melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi Negeri yang menjadi Universitas favorit di kota Daeng dan sangat diminati banyak orang. Siapa yang menyangka Meita bisa lulus murni di Universitas Hasanuddin dan masuk jurusan Fakultas Kesehatan Masyarakat? Usahanya pada masa SMA mengambil jurusan IPA, membuahkan hasil. Meski begitu, ternyata Meita tidak terlalu bahagia dengan keberhasilannya lulus di fakultas tersebut. Karena dia sangat berharap bisa lulus di pilihan pertamanya (Akuntansi) atau pilihan ketiga (Hukum), namun dia tetap bersyukur bisa lulus murni. Tapi ada satu hal lagi yang membuat Meita merasa sedih, yaitu sahabatnya yang bernama Alya tidak seberuntung dirinya bisa lulus di Universitas ternama itu. Ia sedih karena merasa telah berjuang bersama sahabatnya untuk bisa lulus di Universitas tersebut, namun keberuntungan tidak berpihak pada Alya. Meita dan keluarga menganggap bahwa ini adalah hadiah ulang tahun dan berkah dari Tuhan setelah musibah yang menimpa keluarga besarnya.
Hari pertama masuk kampus, Meita merasa malu dan canggung bertemu orang-orang baru yang tentunya masih asing baginya. Tapi siapa sangka, ternyata Meita bertemu beberapa teman lama yang juga kuliah di jurusan yang sama. Ia bertemu dengan teman SD, SMP, SMA, bahkan teman di dunia Maya yang sekarang bertemu di dunia nyata. Finally, Meita mulai merasa nyaman.
Hari-hari berikut di kampus pun dilaluinya dengan teman-teman baru dan tentu saja bersama salah satu sahabatnya lagi pada masa SMA, namanya Adenia. Beberapa teman lama sudah sangat tahu bahwa pada waktu SMA, Meita sering sekali pingsan dan kesurupan disaat melamun, terutama pada saat Upacara sekolah berlangsung. Ya, memang fisiknya sangat lemah, berbeda dengan teman-temannya. Dan kejadian di masa SMA terulang kembali, Meita pingsan di lapangan pada saat Ospek, membuat senior dan maba sontak kaget. Setelah itu, Meita memutuskan untuk check-up ke dokter dan meminta surat keterangan sakit, agar ia tak perlu mengikuti masa Ospek itu. Ia pun sempat memutuskan untuk nginap beberapa hari di rumah temannya yang jaraknya untuk ke kampus tidak terlalu jauh.
Memasuki bulan ketiga, babak baru pun dimulai. Berawal dari kedekatannya pada masa SMA, Meita dan Adenia mulai bersahabat. Tapi ada saja yang tidak suka dan pura-pura menjadi suka terhadap kedekatan mereka, bahkan sering menjelek-jelekkan mereka. Sebut saja, Naya. Ya, dia adalah sepupu dari Adenia yang juga pernah bersekolah di tempat yang sama dan sekarang kuliah pun di jurusan yang sama. Naya sering sekali memanfaatkan Adenia untuk kepentingannya sendiri. Dan siapa sangka, ternyata Naya juga suka menjelek-jelekkan Meita di depan ibunya, agar Meita terlihat buruk dan dipisahkan dari Adenia. Beberapa teman dekat di kampus memberi support dan mencoba menghibur Meita agar tidak merasa kesepian. Namun apalah daya, orangtua Naya sudah terlalu jauh mencampuri urusan anak dan keponakannya, sampai beliau pun mengancam Meita agar tidak lagi dekat dengan Adenia. Jika Meita melanggar dan masih nekat, Adenia akan berhenti kuliah. Tentu saja Meita bingung harus berbuat apa. Di satu sisi Meita sangat membutuhkan Adenia, tapi di sisi lain ia pun harus mengalah demi masa depan Adenia.
Beberapa bulan kemudian, akhirnya Meita pun memutuskan untuk berhenti kuliah. Dikarenakan masalah dengan keluarga sahabatnya, dan sering terlambat bahkan sering bolos kuliah. Ia benar-benar merasa terpuruk atas semua kejadian pada saat itu. Meita tak pernah menyangka bahwa masa kuliah bisa sekejam itu.
Berhenti dari kuliahnya, Meita dan adik perempuannya berlibur ke Surabaya untuk menghilangkan penat di kota Daeng dan sekaligus ingin menghabiskan akhir tahun di kota Pahlawan. Tak ada yang bisa menduga kalau pada akhirnya Meita ingin tinggal bersama om dan tantenya yang lumayan berada di Surabaya, kota Pahlawan. Meita merasa sudah sangat lelah bahkan jenuh dengan semua kejadian dan masalah-masalah yang telah dilewati selama ia hidup dan tinggal di kota Daeng. Semua ini juga dilakukan Meita untuk meringankan beban kedua orangtuanya.
Menjalani hari-hari di kota Pahlawan membuat Meita merasa seperti bangkit kembali. Ia mulai beradaptasi dengan lingkungan, membantu om dan tantenya di toko. Ya, bakat berdagang Meita kembali ter-asa. Di kota Pahlawan itu, Meita dikenalkan dengan seorang laki-laki dewasa yang umurnya jauh berbeda dengannya. Awalnya Meita tidak ada pikiran untuk memulai hubungan dengan orang Jawa, tapi akhirnya Meita pun luluh karena dukungan dari tantenya. Ia merasa aman dan nyaman ketika berada di dekat laki-laki itu. Tentu saja, karena Meita merasa sangat dimanja dan diistimewakan, perlakuan yang belum pernah ia dapatkan dari laki-laki manapun yang pernah dekat dengannya, termasuk ayahnya sendiri. Namun, hubungan itu tidak bertahan lama, dikarenakan kesibukan laki-laki itu dan keinginan Meita yang ingin pulang kembali ke kampung halamannya, kota Daeng.
Udara pagi di kota Daeng membuat Meita kembali teringat dengan kejadian-kejadian pada masa silam. Tapi ia harus bangkit! Kembalinya Meita dari kota Pahlawan membuatnya menjadi pengangguran. Namun ibunya tak putus asa, beliau selalu memberikan semangat untuk Meita agar tidak hanya berdiam diri di rumah. Dan satu bulan kemudian Meita memantapkan diri untuk mulai bekerja sebagai staf di sebuah kantor jasa. Ya, ini semua berkat dorongan dari kedua orangtuanya dan orang-orang di lingkungannya.
Setibanya di kantor jasa, seperti biasa Meita nervous dan risih karena bertemu dengan orang baru, padahal hari pertama ini masih interview. Setelah interview dengan beberapa calon staf, satu minggu kemudian Meita mendapat panggilan berikutnya untuk diberikan arahan dan materi pada masa training nanti.
Hari pertama training, Meita merasakan nervous yang luar biasa saat bertemu dengan orang-orang baru. Ia pun berusaha menghilangkan ketakutannya menghadapi dunia kerja, terlebih bekerja sebagai karyawan. Untuk pertama kalinya Meita bekerja untuk orang, padahal dulunya ia adalah bos kecil. Ia tak pernah merasakan susahnya mencari uang dan rezeki yang halal. Dulunya Meita hidup serba berkecukupan, apa yang ia inginkan selalu diikuti oleh ibunya. Tapi sekarang keadaan berbalik, Meita tak lagi berada di atas. Ia pun harus mencoba merasakan berada di bawah.
Roda itu berputar. Kehidupan tak selamanya selalu berada di atas, dan sebaliknya. Terkadang kita harus melihat ke bawah agar bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
Tak sedikit pelajaran dan hikmah yang Meita dapatkan selama hidupnya hingga sekarang bisa bekerja. Bahkan hari pertama dan kedua Meita nyaris berhenti karena ia tidak sanggup menghadapi Supervisor-nya yang galak dan sinis. Meskipun di tempat kerjanya sangat disiplin dan sistem senioritas, ia mampu melewati masa-masa sulit itu. Dan setelah satu bulan masa training, akhirnya Meita resmi bekerja sebagai salah satu staf di kantor jasa itu.
Selama dua bulan bekerja sebagai salah satu staf, Meita pun mulai mendapat banyak pujian dari senior dan General Manager (GM). Karena Meita memang bekerja dengan ikhlas dan sepenuh hati. Ia pun merasa bangga pada dirinya sendiri karena bisa bekerja untuk orang lain, dan bisa membantu banyak orang, karena memang pekerjaannya dibidang jasa. Banyak pengalaman yang bisa ia ambil untuk dijadikan sebagai pelajaran hidupnya. Setelah cukup mahir pada pekerjaannya, Meita pun dipercayakan untuk menghandle tamu sendiri dan tanpa didampingi senior lagi.
Hari itu, setelah Meita menghandle tamu melalui sambungan telepon, ia pun harus menghandle tamu secara langsung karena teman yang lain sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Meita pun kaget karena tamu yang akan dihandle adalah temannya pada masa bimbel (bimbingan belajar). Dan ternyata tamu itu adalah sosok yang pernah Meita kagumi pada masa SMA. Pada awalnya Meita merasa malu karena takut akan dipandang sebelah mata oleh temannya yang bernama Arfan. Tapi ternyata prasangka buruk itu semua salah. Karena Arfan adalah orang yang sangat baik, ramah, sopan dan santun, care, pokoknya siapapun yang kenal dekat dengan dia pasti akan mengaguminya.
Berbekal dari training, Meita mendapat berkah. Akhirnya bisa bertemu dengan teman lama, sosok yang pernah ia kagumi dan bisa menghandlenya dengan baik. Berkat bantuannya, Arfan pun meminta kontak Meita agar jika butuh bantuan lagi bisa langsung menghubungi Meita. Dan ternyata lagi-lagi Arfan membutuhkan bantuan Meita, terjadilah komunikasi terus-menerus hingga berujung menjadi cinta. Hampir semua teman kantor mendukung hubungan Meita dan Arfan. Tentu saja, karena akhirnya Meita bisa pacaran dengan orang yang dulunya pernah ia kagumi.
Beberapa bulan kemudian, Meita dan beberapa senior terdekatnya berencana untuk liburan ke suatu daerah, yang di mana daerah itu memang salah satu tempat wisata favorit. Namun, liburan itu berujung masalah. Ada kesalahpahaman yang terjadi di antara Meita dan beberapa seniornya itu. Usai berlibur, Meita dan beberapa seniornya kembali bekerja seperti biasa. Tapi ada yang tak biasa, beberapa senior terus-menerus menyinggungnya, hingga akhirnya Meita berlari ke ruang makan dan menangis. Iya, hanya bisa menangis. Meita pun pingsan karena merasa dadanya sangat sesak dan tidak kuat menahan rasa sakit dihatinya. Tak lama kemudian ibunya dan Arfan pun datang untuk menjemput Meita yang sudah tak sadarkan diri. Arfan pun dengan sekuat tenaga menggendong Meita dari lantai 2 menuju ke mobilnya.
Malam itu setelah Meita tersadar dari pingsan, ia pun ikut berdiskusi dengan ibunya, Arfan dan juga teman Arfan. Rupanya Meita masih tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Ia merasa begitu kecewa terhadap beberapa seniornya yang sempat ikut berlibur bersamanya dan Arfan. Meita merasa gagal menjadi orang baik selama bekerja di kantor jasa tersebut, karena masih ada saja orang-orang yang tidak suka dengannya dan berusaha menjatuhkannya. Meita bersih keras untuk segera bisa resign dari pekerjaannya, dan ia pun mendapat dukungan dari ibunya dan juga Arfan.
Dinginnya udara pagi membuat Meita tersadar saat bersiap ingin ke kantor. Ia merasa bahwa alasannya untuk resign hanya karena dimusuhi beberapa senior tidaklah baik. Meita merasa tidaklah dewasa pikiran seseorang jika merasa dirinya terkucilkan dan tak seharusnya ia resign. Karena Meita merasa perjuangannya selama beberapa bulan ini akan sia-sia. Ia memutuskan akan tetap bekerja dan bertahan hingga satu sampai dua tahun.
Begitu banyak cobaan yang datang saat Meita mencoba bertahan dan tetap bekerja. Ia selalu dibully oleh beberapa seniornya yang kini menjadi musuhnya. Namun Meita berusaha tegar, ia pun mendapat banyak support dari senior dan juniornya. Meita selalu mengingat kata-kata dari kedua orangtuanya, "kamu bekerja untuk diri sendiri dan kantor, pekerjaan kamu ini mulia nak karena membantu banyak orang. Dan ingatlah bahwa bukan mereka yang memberimu gaji, dan kamu tidak bekerja untuk mereka. Kamu dan mereka sama-sama bekerja".
Beberapa bulan bertahan dan mendapatkan banyak support dari orang terdekat, termasuk kekasihnya Arfan. Ia sangat bersyukur karena masih dikelilingi orang-orang baik dan peduli terhadapnya. Arfan yang begitu baik dan peduli terhadap Meita, membuatnya merasa bahagia dan beruntung. Tapi hubungan itu hanya bertahan hampir satu tahun. Karena mulai banyak konflik yang terjadi antara Meita dan Arfan. Meita yang sangat mencintai Arfan pun harus bisa mengikhlaskan keputusan yang diambil oleh Arfan. Setelah berpisah dari kekasihnya, Meita merasa semakin terpuruk. Karena luka lama yang diberikan beberapa seniornya dulu masih berbekas dan kini ia harus menerima luka baru dari orang yang sangat dicintainya.
Life must go on. Itulah kalimat yang pantas untuk Meita saat ini agar ia bisa bangkit dari keterpurukannya. Meita semakin menutup diri dari orang-orang terdekatnya, bahkan ia pun memutuskan untuk menutup hatinya. Meita sudah tidak percaya dengan cinta sejati, cinta yang tulus dan baik. Dan ia merasa tak akan bisa lagi menemukan sosok Arfan pada orang lain. Ia pun tidak ingin lagi mengenal cinta yang tak halal. Ia hanya ingin menjalin hubungan yang lebih serius lagi, "Menikah" misalnya.
Sore yang selalu dilalui tanpa bisa melihat senja. Ya, tak perlu heran. Karena jam kerja yang selalu tak mendukung. Meski libur pun belum tentu Meita bisa melihatnya. Namun, ada yang berbeda dari hari biasanya. Sore yang dilalui hari ini begitu gelap, padahal adzan Maghrib pun belum berkumandang. Malam itu saat di kamar, Meita membuka salah satu media sosialnya, "Path". Ia mendapatkan postingan dari beberapa teman semasa kuliah yang ingin menjenguk temannya yang sedang terbaring lemah di sebuha Rumah Sakit. Meita pun merasa kaget dan sangat sedih karena temannya yang sakit adalah salah satu teman dekatnya pada masa kuliah. Bisa dibilang mereka bersahabat, walau tak sering bertemu setelah Meita berhenti kuliah. Meita pun lalu memberi komentar pada postingan teman-temannya dengan doa dan harapan untuk temannya "Kinta" yang sedang sakit parah, agar cepat sembuh dan bisa hangout lagi bersama teman yang lainnya. Meita pun mengirimkan postingan pribadi yang langsung ditujukan kepada Kinta. Ia menuliskan permintaan maaf karena belum bisa menjenguk Kinta di Rumah Sakit. Meita berharap agar kinta segera sembuh.
Beberapa jam kemudian, media sosial pun ramai karena Kinta dikabarkan telah pergi untuk selama-lamanya. Meita merasa sangat terpukul dengan kepergian Kinta. Ia juga merasa bersalah karena tidak pernah ada saat Kinta sakit dan belum pernah sekalipun menjenguknya di Rumah Sakit. Malam itu Meita mencoba menghubungi semua teman kuliahnya, dan meminta agar bisa ikut mengantarkan jenazah ke kampung halaman Kinta. Saat air mata berderai dan tak berhenti menetes, ibu Meita pun kaget melihat anaknya begitu sedih. Meita pun langsung meminta izin agar bisa ikut mengantarkan jenazah Kinta di tempat peristirahatan terakhir. Tentu saja ibunya tidak mengizinkan karena melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 00.00 dini hari. Ibunya hanya khawatir dengan kondisi Meita yang sangat sedih dan lemah. Namun, kali ini Meita benar-benar memohon dengan sangat kepada ibunya agar diizinkan. Meita berkata pada ibunya bahwa ia berjanji ini pertama dan terakhir kalinya keluar malam dan pergi jauh, hanya untuk sahabatnya yang sudah tiada. Karena kepercayaan yang tak pernah dilanggar, akhirnya ibu pun mengizinkannya pergi. Meita pun segera menghubungi teman dan sahabatnya yang ingin pergi. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya teman dan sahabatnya pun datang menjemput Meita.
Sepanjang perjalanan menuju kampung halaman Kinta, Meita bercerita dengan sahabatnya yang bernama Cica dan Sandra. Ia menanyakan bagaimana sebenarnya kondisi terakhir Kinta. Setelah mendengarkan penjelasan dari kedua sahabat dan teman-temannya, Meita tak kuasa lagi menahan derai air mata yang terus menetes. Sepanjang perjalanan ia terus menangis dan menyesal karena tak pernah menyempatkan waktu menjenguk Kinta. Ia berharap saat tiba di sana masih bisa melihat jenazah Kinta.
Jam sudah menunjukkan pukul 03.45 subuh. Saat tiba di rumah duka, Meita, Cica, Sandra dan teman yang lain dipersilakan untuk masuk dan duduk dekat jenazah Kinta. Setelah membacakan doa untuk jenazah, kakak perempuan almarhumah Kinta yang bernama Dinda pun membukakan kain penutup jenazah agar Meita dan sahabatnya bisa melihat jenazah Kinta. Air mata Meita terus menetes, dan Dinda pun bertanya pada Cica dan Sandra. Dinda heran melihat kesedihan Meita yang begitu mendalam terhadap kepergian Kinta.
Setelah berderai air mata, Meita dan temannya yang lain bersiap untuk melaksanakan sholat Subuh berjamaah karena jam sudah menunjukkan pukul 05.10 pagi. Namun dikarenakan kamar yang tidak memungkinkan untuk sholat berjamaah, akhirnya hanya bisa sholat berjamaah 2 sampai 3 orang. Pada saat itu kebetulan Cica dan Sandra sedang datang bulan jadi tidak bisa ikut sholat berjamaah. Meita pun tadinya ingin sholat berjamaah dengan teman-teman perempuannya, tapi karena teman-temannya sudah lebih dulu selesai sholat Subuh, akhirnya Cica, Sandra dan teman-teman yang lain menyuruh Meita ikut sholat berjamaah dengan Okta. Okta adalah teman semasa kuliah dan Meita pun baru tahu kalau ternyata Okta ada kekasih dari almarhumah Kinta. Awalnya Meita menolak untuk sholat bersama Okta karena merasa tidak enak terhadap almarhumah Kinta. Namun Meita tetap harus menjalaninya karena jam sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi. Setelah selesai sholat berjamaah dengan Okta, ada rasa yang tak biasa muncul pada perasaan Meita. Kembali ia bisa merasa mengagumi lawan jenis. Padahal dulu Meita sudah menutup rapat hatinya dan merasa tak akan lagi menemukan sosok yang bisa membuat dirinya kagum. Tapi Meita sadar bahwa ia tak boleh memiliki perasaan lebih dari sekedar kagum, karena tahu kalau Okta adalah kekasih sahabatnya dan melihat kesedihan Okta terhadap kepergian Kinta, Meita pun tidak ada pikiran untuk mendapat perhatian Okta.
Pagi itu rumah duka dipadati oleh keluarga, sahabat, teman dan tetangga almarhumah Kinta. Siapa sangka bahwa sosok almarhumah Kinta begitu disenangi dan disayangi oleh banyak orang. Saat jenazah selesai dimandikan dan akan dikafankan, isak tangis pun semakin terdengar. Meita, Cica, Sandra dan teman-teman yang lain pun semakin menangisi kepergian Kinta. Sementara Okta yang saat itu tetap berada dekat jenazah terlihat sangat sedih dan terus membacakan doa untuk almarhumah Kinta.
Setelah disholatkan, jenazah Kinta lalu dibawa ke pemakaman. Saat akan dimakamkan, hujan turun dan isak tangis pun terdengar kembali. Meita yang kala itu sudah sangat lemah, kembali menangisi kepergian Kinta. Ia terus menangis dan saat keluar dari pemakaman menuju ke mobil, Meita tiba-tiba saja pingsan. Semua orang kaget dan teman-temannya pun berdatangan mendekati Meita dan mengangkatnya menuju mobil. Beberapa menit kemudian akhirnya Meita sadar, ia pun heran kenapa bisa berada di mobil dan mobil yang berbeda. Setelah kembali tiba di rumah duka, kedua sahabat dan teman-temannya pun memberikan minyak angin dan segelas air. Dinda dan orangtua Kinta pun datang menghampiri Meita di kala ia terbaring lemah. Dan tiba-tiba Okta juga datang menghampiri Meita dan menanyakan keadaannya.
Karena hari sudah siang, Meita, Cica, Sandra, Okta dan teman-teman lain bersiap-siap untuk kembali ke kota. Tapi sebelum kembali menuju kota, Dinda mengajak sahabat dan teman-teman almarhumah Kinta untuk makan siang. Namun karena kondisi Meita yang masih sangat lemah, ia tak bisa menahan rasa mual dan pusing yang akhirnya harus memuntahkan makanan itu. Perjalanan menuju ke kota diiringi dengan derasnya hujan yang mengharuskan mobil berjalan lebih pelan dari biasanya. Sepanjang jalan Meita hanya diam, melihat ke arah luar dan kedua sahabatnya Cica dan Sandra mencoba menghiburnya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Hari semakin gelap dan saat adzan Maghrib berkumandang, akhirnya Meita dan yang lainnya tiba di kota. Dan Okta meminta untuk mampir sebentar di rumahnya agar bisa menunaikan ibadah sholat Maghrib. Setelah selesai sholat Maghrib, perjalanan pun kembali dilanjutkan. Okta mengajak teman-temannya untuk makan malam terlebih dulu dan setelah itu mengantarkan teman-temannya pulang di rumah masing-masing.
Keesokan harinya Meita menjalani hidupnya seperti biasa, kembali bekerja dan lagi-lagi mendapat sindiran dari beberapa seniornya di kantor. Jam sudah menunjukkan pukul 16.30 yang berarti sudah waktunya pulang. Meita pun naik ke lantai 2 untuk mengambil tas dan barangnya diloker. Sebelum pulang, Meita memeriksa hpnya. Dan ternyata ada 1 pesan singkat dari nomor yang tak dikenalnya. Ya, itu adalah SMS dari Okta. Meita pun kaget dan merasa heran, ia bertanya-tanya ini Okta siapa. Kemudian Meita pun membalasnya.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.